Dasar Dasar Testing


 

 

 

 

 

 

 

Testing merupakan tugas yang tak dapat dihindari di tiap bagian dari tanggung jawab usaha
pengembangan suatu sistem software
William Howden

Obyektifitas Testing

Secara umum obyektifitas dari testing adalah untuk melakukan verifikasi, validasi dan deteksi error untuk menemukan masalah dan tujuan dari penemuan ini adalah untuk membenahinya. Namun terdapat pula beberapa pendapat dari praktisi yang dapat pula dipandang sebagai bagian dari obyektifitas testing, antara lain:

  • Meningkatkan kepercayaan bahwa sistem dapat digunakan dengan tingkat resiko yang dapat diterima.
  • Menyediakan informasi yang dapat mencegah terulangnya error yang pernah terjadi.
  • Menyediakan informasi yang membantu untuk deteksi error secara dini.
  • Mencari error dan kelemahan atau keterbatasan sistem.
  • Mencari sejauh apa kemampuan dari sistem.
  • Menyediakan informasi untuk kualitas dari produk software.

Misi dari Tim Testing

Misi dari tim testing tidak hanya untuk melakukan testing, tapi juga untuk membantu meminimalkan resiko kegagalan proyek. Tester mencari manifestasi masalah dari produk, masalah yang potensial, dan kehadiran dari masalah. Mereka mengeksplorasi, mengevaluasi, melacak, dan melaporkan kualitas produk, sehingga tim lainnya dari proyek dapat membuat keputusan terhadap pengembangan produk. Penting diingat bahwa tester tidak melakukan pembenahan atau pembedahan kode, tidak mempermalukan atau melakukan komplain pada suatu individu atau tim, hanya menginformasikan. Tester adalah individu yang memberikan hasil pengukuran dari kualitas produk.

Psikologi Testing

Testing merupakan suatu psikologi yang menarik. Dimana bila pengembangan dilakukan secara konstruktif, maka testing adalah destruktif. Seorang pengembang bertugas membangun, sedangkan seorang tester justru berusaha untuk menghancurkan. Mental yang seperti inilah yang penting bagi seorang tester. Apabila seorang disainer harus menanamkan pada benaknya dalam-dalam akan testabilitas, programer harus berorientasi pada “zero defect minded”, maka tester harus mempunyai keinginan yang mendasar untuk “membuktikan kode gagal (fail), dan akan melakukan apa saja untuk membuatnya gagal.” Jadi bila seorang tester hanya ingin membuktikan bahwa kode beraksi sesuai dengan fungsi bisnisnya, maka tester tersebut telah gagal dalam menjalankan tugasnya sebagai tester.

Hal ini tidak merupakan pernyataan bahwa melakukan testing dari sudut pandang bisnis adalah salah, namun pada kenyataannya adalah sangat penting diungkapkan, karena kebanyakan testing yang ada pada organisasi hanya memandang dari titik “pembuktian bahwa kode bekerja sesuai dengan yang dispesifikasikan.”

Prinsip – Prinsip Testing

Terdapat 6 kunci prinsip-prinsip testing, yaitu :

  • Testing yang komplit tidak mungkin.
  • Testing merupakan pekerjaan yang kreatif dan sulit.
  • Alasan yang penting diadakannya testing adalah untuk mencegah terjadinya errors.
  • Testing berbasis pada resiko.
  • Testing harus direncanakan.
  • Testing membutuhkan independensi.

Posted on September 19, 2011, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: